APINDO Kabupaten Bekasi Ungkap Strategi Industri Hadapi Tekanan Global
Hallo Pabrikers, Upaya efisiensi energi kini semakin menjadi fokus utama industri manufaktur di tengah tekanan ekonomi global. Hal ini mengemuka dalam webinar bertajuk “From Smart Energy Saving to Business Survival” yang diselenggarakan oleh DPK APINDO Kabupaten Bekasi pada Rabu (8 /4) . Ketua DPK APINDO Kabupaten Bekasi, M. Yusuf Wibisono, dalam keynote speech menegaskan bahwa efisiensi operasional saat ini bukan lagi sekadar strategi tambahan, melainkan sudah menjadi kebutuhan utama bagi industri untuk bertahan. Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global turut berdampak langsung terhadap dunia industri, sehingga perusahaan harus mampu beradaptasi dengan cepat melalui efisiensi.
Hallo Pabrikers, Upaya efisiensi energi kini semakin menjadi fokus utama industri manufaktur di tengah tekanan ekonomi global. Hal ini mengemuka dalam webinar bertajuk “From Smart Energy Saving to Business Survival” yang diselenggarakan oleh DPK APINDO Kabupaten Bekasi pada Rabu  (8 /4) . Ketua DPK APINDO Kabupaten Bekasi, M. Yusuf Wibisono, dalam keynote speech menegaskan bahwa efisiensi operasional saat ini bukan lagi sekadar strategi tambahan, melainkan sudah menjadi kebutuhan utama bagi industri untuk bertahan. Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global turut berdampak langsung terhadap dunia industri, sehingga perusahaan harus mampu beradaptasi dengan cepat melalui efisiensi.
“Dunia industri saat ini menghadapi tekanan global yang tidak menentu. Kami sendiri sudah merasakan dampaknya, sehingga efisiensi menjadi langkah yang tidak bisa ditunda,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa APINDO terus mendorong budaya kerja yang lebih efisien di internal perusahaan, termasuk penyederhanaan proses produksi.
“Dalam satu line process, kami lakukan efisiensi dari 10 proses menjadi 5. Ini bagian dari strategi bertahan,” jelasnya

Selain itu, APINDO juga memperkuat sinergi dengan pemerintah dan kementerian terkait guna mendukung keberlanjutan industri melalui pertukaran informasi dan kebijakan yang relevan. Terkait kebijakan Work From Home (WFH), Yusuf menegaskan bahwa sektor manufaktur memiliki karakteristik berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan dengan sektor lain. “Untuk sektor manufaktur seperti otomotif seperti kami di Yamaha dengan 243 hari kerja produktif, kebijakan WFH tidak bisa kami jalankan. Silakan bagi sektor lain yang memungkinkan bisa menjalankan, laksanakan saja” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, menekankan bahwa efisiensi energi kini menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan bisnis industri.
Ia menjelaskan bahwa dinamika global memicu fluktuasi harga energi, sementara energi merupakan salah satu komponen biaya produksi terbesar. “Efisiensi bukan sekadar kepatuhan, tetapi sudah menjadi strategi kunci untuk bertahan (business survival),” ujarnya. Trois juga mendorong industri untuk mulai beralih ke energi baru terbarukan (EBT), seperti PLTS atap, biomassa, dan biogas, sekaligus meningkatkan daya saing melalui standar global seperti jejak karbon dan green labeling.
Dalam sesi sharing, praktisi industri dari PT Mayora Indah Tbk, Luky Lukman, memaparkan implementasi efisiensi utilitas yang sudah berjalan di perusahaan. Fokus efisiensi dilakukan pada empat aspek utama, yakni listrik, gas & BBM, biomassa, serta air. Mulai dari pemanfaatan PLTS, peralihan energi ke gas yang lebih ramah lingkungan, hingga penerapan zero waste dengan memanfaatkan limbah produksi sebagai bahan bakar. Selain itu, pengelolaan air limbah juga dioptimalkan melalui sistem daur ulang untuk mendukung operasional.
Strategi Mitsubishi
Sementara itu, dari sektor otomotif, Giri Yasa dari PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia membagikan pendekatan teknis efisiensi yang lebih detail dan terstruktur.
Ia menjelaskan bahwa efisiensi energi tidak harus selalu dimulai dari investasi besar, tetapi bisa dilakukan melalui optimalisasi peralatan, otomasi, serta perawatan yang konsisten.
Beberapa langkah yang diterapkan antara lain penggunaan inverter pada motor listrik seperti fan, pompa, dan cooling tower untuk menekan konsumsi energi, serta pengaturan suhu pada proses produksi agar lebih efisien.
Selain itu, stabilisasi suplai udara bertekanan dilakukan melalui penggunaan air receiver tank, serta penyesuaian tekanan kompresor agar tidak berlebihan.
Dari sisi otomasi, industri juga mulai memanfaatkan Energy Monitoring System (EMS) untuk memantau penggunaan energi secara real-time, termasuk pengaturan otomatis seperti pemadaman peralatan saat tidak digunakan dan penerapan mode hemat energi pada mesin maupun robot produksi.
Sementara pada aspek maintenance, pendekatan preventif dan prediktif menjadi kunci, seperti mengurangi kebocoran udara pada sistem kompresor, penggantian filter secara rutin, serta perawatan berkala pada bearing dan sensor untuk menjaga performa optimal.
“Intinya, penghematan energi teknis bukan bergantung pada teknologi mahal, tetapi kombinasi efisiensi peralatan, kontrol yang tepat, dan disiplin perawatan,” menjadi salah satu poin penting dalam pemaparan tersebut.
Tak hanya itu, Mitsubishi juga menyoroti pemanfaatan energi alternatif seperti PLTS atap, sistem hybrid energi, hingga penggunaan battery energy storage sebagai solusi lanjutan untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas operasional.
Webinar yang dimoderatori oleh Dewi Kristiani ini menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci dalam menghadapi tantangan energi sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis. Melalui forum ini, terlihat jelas bahwa efisiensi energi bukan lagi sekadar program penghematan, melainkan sudah menjadi strategi utama bagi industri manufaktur untuk bertahan dan tetap kompetitif di tengah ketidakpastian global. (jw)