Ditumbalkan Demi Gelar: Ketika Dokter Muda Dipaksa Bertaruh Nyawa di Balik Sistem Pendidikan
Halo pabrikers, Di mata masyarakat, dokter adalah simbol pengabdian dan kemanusiaan. Mereka dituntut sigap menyelamatkan nyawa, bekerja tanpa lelah, bahkan rela mengorbankan waktu pribadi demi pasien. Namun ironisnya, di balik jas putih yang dihormati itu, ada cerita panjang tentang dokter muda yang justru menjadi korban sistem yang seharusnya melindungi mereka.
Oleh B. Purnomo — Advokat, Praktisi dan Peneliti Hukum Ketenagakerjaan
Halo pabrikers, Di mata masyarakat, dokter adalah simbol pengabdian dan kemanusiaan. Mereka dituntut sigap menyelamatkan nyawa, bekerja tanpa lelah, bahkan rela mengorbankan waktu pribadi demi pasien. Namun ironisnya, di balik jas putih yang dihormati itu, ada cerita panjang tentang dokter muda yang justru menjadi korban sistem yang seharusnya melindungi mereka.
Program Co-Assistant (Coass) dan Internship yang idealnya menjadi tahap pembelajaran klinis, dalam praktiknya kerap berubah menjadi ruang eksploitasi berkedok pendidikan. Jam kerja yang mencapai 24 hingga 36 jam tanpa tidur bukan lagi cerita baru. Bahkan, beban kerja mingguan dokter muda disebut bisa menyentuh 80 sampai 100 jam per minggu. �
Analisis Human Dignity Jam Kerja Dokter Muda_Bimo.pdf
Situasi ini bukan sekadar soal capek bekerja. Ini sudah menyentuh persoalan martabat manusia atau human dignity. Dalam teori filsafat hukum Immanuel Kant, manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat produksi. Tetapi yang terjadi pada banyak dokter muda hari ini justru sebaliknya. Mereka dipaksa terus bekerja demi menutup kekurangan tenaga medis dan menjaga operasional rumah sakit tetap berjalan. �
Analisis Human Dignity Jam Kerja Dokter Muda_Bimo.pdf
Yang lebih memprihatinkan, budaya ini lama-kelamaan dianggap normal. Senior yang dulu pernah “digembleng” dengan pola kerja tidak manusiawi akhirnya mengulang pola yang sama kepada juniornya. Lingkaran toxic ini terus diwariskan seolah menjadi tradisi wajib dalam dunia kedokteran. Akibatnya, kelelahan ekstrem dianggap bagian dari proses menjadi dokter hebat. Padahal tubuh manusia punya batas. �
Analisis Human Dignity Jam Kerja Dokter Muda_Bimo.pdf
Masalahnya semakin serius ketika negara justru terkesan membiarkan kondisi tersebut berlangsung bertahun-tahun. Dalam dokumen ini dijelaskan bagaimana pemerintah sempat menyatakan tidak ada indikasi kelebihan beban kerja pada dokter internship. Namun setelah muncul korban jiwa dan sorotan publik, barulah muncul dorongan revisi regulasi. �
Analisis Human Dignity Jam Kerja Dokter Muda_Bimo.pdf
Pola kebijakan seperti ini menunjukkan negara cenderung reaktif, bukan preventif. Seolah harus ada korban lebih dulu sebelum sistem diperbaiki. Padahal dalam prinsip hukum dan keselamatan kerja, pencegahan seharusnya menjadi prioritas utama.
Jika dibandingkan dengan buruh pabrik, ironi itu semakin terlihat jelas. Buruh memiliki batas maksimal jam kerja, hak istirahat, perlindungan keselamatan kerja, hingga upah lembur yang diatur undang-undang. Sementara dokter muda yang mempertaruhkan keselamatan pasien justru sering bekerja tanpa kepastian waktu istirahat dan tanpa perlindungan yang memadai. �
Analisis Human Dignity Jam Kerja Dokter Muda_Bimo.pdf
Pertanyaan besarnya sederhana: bagaimana mungkin seseorang yang kelelahan berat tetap dipercaya mengambil keputusan medis penting yang menyangkut nyawa manusia?
Dalam perspektif hukum, kondisi ini sebenarnya bertabrakan dengan Pasal 28D ayat (2) UUD 1945 yang menjamin setiap orang berhak mendapatkan perlakuan kerja yang adil dan layak. Dokter muda memang kerap disebut “peserta didik”, tetapi secara praktik mereka menjalankan pekerjaan medis nyata, mengikuti instruksi kerja, melayani pasien, bahkan menanggung tekanan fisik dan mental yang sangat berat. �
Analisis Human Dignity Jam Kerja Dokter Muda_Bimo.pdf
Karena itu, sudah saatnya sistem pendidikan kedokteran di Indonesia dievaluasi total. Pengorbanan bukan berarti membiarkan calon dokter kehilangan hak dasarnya sebagai manusia. Rumah sakit pendidikan dan pemerintah harus mulai membangun sistem kerja yang sehat, manusiawi, dan aman — bukan hanya untuk dokter muda, tetapi juga demi keselamatan pasien.
Sebab pada akhirnya, dokter juga manusia. Mereka bukan mesin yang bisa dipaksa terus menyala tanpa henti. Dan negara tidak boleh menunggu lebih banyak korban hanya untuk menyadari hal sesederhana itu. �