Loker : HRGA Staff đź“Ť Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

đź“© Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Industrial Manufacturing Meetup di Semarang: Kupas Tuntas Green Productivity untuk Performa Organisasi

Hallo Pabrikers, Jurnalkawasan.com kembali menggelorakan Semangat kolaborasi dan peningkatan daya saing industri kembali terasa dalam gelaran Industrial Manufacturing Meetup yang berlangsung di Hotel Horison Nindya, Kota Semarang (Kamis.12/2). Acara ini dihadiri sekitar 50 praktisi industri dari Semarang, Kendal, dan sekitarnya, yang terdiri dari para HR, manajer produksi, hingga level pimpinan perusahaan manufaktur.

Feb 13 2026, 13:41

Semarang,-

Hallo Pabrikers, Jurnalkawasan.com kembali menggelorakan Semangat kolaborasi dan peningkatan daya saing industri kembali terasa dalam gelaran Industrial Manufacturing Meetup yang berlangsung di Hotel Horison Nindya, Kota Semarang (Kamis.12/2). Acara ini dihadiri sekitar 50 praktisi industri dari Semarang, Kendal, dan sekitarnya, yang terdiri dari para HR, manajer produksi, hingga level pimpinan perusahaan manufaktur. Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Banyak pertanyaan mengemuka, mulai dari strategi meningkatkan produktivitas tanpa membebani biaya, hingga bagaimana menyinergikan aspek keberlanjutan (sustainability) dengan target profit perusahaan. Acara ini menghadirkan dua narasumber berpengalaman, yakni Nurdin Setiawan dan Titi Agustina, yang membawakan materi seputar Green Productivity & Sustainability for Organization Performance Excellence.

Dalam paparannya, Ketua Asosiasi Profesi Produktivitas (APPRODI) Jawa Tengah Titi Agustina menegaskan bahwa Green Productivity (GP) bukan sekadar isu lingkungan, tetapi strategi bisnis yang berdampak langsung pada performa organisasi.

“Produktivitas Hijau adalah strategi untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja lingkungan suatu bisnis secara bersamaan, demi pembangunan sosial-ekonomi secara keseluruhan,” jelas Titi.

Ia menambahkan bahwa penerapan teknik, teknologi, dan sistem manajemen yang tepat akan membantu perusahaan menghasilkan produk dan jasa yang lebih ramah lingkungan sekaligus lebih efisien.

Titi juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir melalui konsep Open Mind, Open Heart, dan Open Will. “Letting go berarti melepas pola lama, ego pribadi, asumsi lama, dan cara pikir yang sudah tidak relevan. Dari situ akan lahir insight baru, solusi inovatif, visi masa depan yang lebih besar, serta kepemimpinan yang lebih adaptif,” ungkapnya. Menurutnya, perubahan sistemik hanya bisa terjadi jika organisasi berani keluar dari departmental mindset dan mulai membangun kolaborasi lintas fungsi.

HR, Produktivitas, dan Profit Berbasis Kinerja

Sementara itu, GM HR PT Pan Brothers Nurdin Setiawan menyoroti peran strategis HR dalam mendorong produktivitas yang berujung pada profit perusahaan. Dalam materinya tentang Wages Based on Productivity, Nurdin menjelaskan bahwa kenaikan kesejahteraan harus selaras dengan peningkatan output dan efisiensi. “Overtime bukan untuk mengejar target semata, tetapi untuk meningkatkan output secara terukur. Produktivitas yang tinggi akan mendorong efisiensi, menekan cost, dan pada akhirnya meningkatkan profit,” tegas Nurdin.

Ia juga memaparkan bahwa produktivitas tidak hanya dipengaruhi oleh manpower, tetapi juga material, machine, method, dan faktor lainnya (4M+1). Peran HR tidak berhenti pada pemenuhan tenaga kerja, tetapi juga pada pengembangan kompetensi, disiplin, hingga daya tahan dan kecepatan kerja karyawan.

“Sinergi antara produksi dan non-produksi harus harmonis. Operator dan leader harus berjalan seirama. Di situlah HR memegang peran sebagai penghubung dan penggerak,” jelasnya.

Diskusi juga mengerucut pada pentingnya cost management sebagai pusat dari kualitas, produktivitas, ketepatan pengiriman (on-time delivery), dan profit.

Peserta terlihat antusias ketika membahas hubungan antara kualitas material, efektivitas proses produksi, hingga dampaknya terhadap profit vs loss. Banyak pertanyaan muncul terkait bagaimana mengukur KPI lintas departemen serta mengintegrasikan aspek sustainability ke dalam target operasional.

Dengan 50 praktisi industri yang hadir, forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman nyata antar perusahaan. Industrial Manufacturing Meetup di Semarang membuktikan bahwa isu produktivitas dan sustainability bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga daya saing industri di tengah dinamika ekonomi dan regulasi global. (*)

Berita Terkait

No Posts Found