Loker : HRGA Staff 📍 Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

📩 Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Ketika Alumni Magang Jepang Masuk Istana: Sebuah Catatan Reflektif

Ada pengalaman yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya cukup berkesan: masuk ke Istana untuk menyampaikan cerita orang-orang di lapangan. Siang itu kami berangkat menuju Istana Wakil Presiden bersama rombongan IKAPEKSI. Tidak banyak, sekitar delapan orang. Karena memasuki kawasan Istana, prosedurnya tentu berbeda dengan memasuki gedung perkantoran biasa. Kami melewati pemeriksaan hingga dua kali. Telepon seluler dan tas tidak diperbolehkan dibawa masuk ke area pertemuan.

Sep 02 2026, 07:50

Ketika Alumni Magang Jepang Masuk Istana: Sebuah Catatan Reflektif

Oleh : Pranyoto Widodo, ST (Ketua Umum Ikatan Pengusaha Kenhusei Indonesia)


Ada pengalaman yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya cukup berkesan: masuk ke Istana untuk menyampaikan cerita orang-orang di lapangan. Siang itu kami berangkat menuju Istana Wakil Presiden bersama rombongan IKAPEKSI. Tidak banyak, sekitar delapan orang. Karena memasuki kawasan Istana, prosedurnya tentu berbeda dengan memasuki gedung perkantoran biasa.  Kami melewati pemeriksaan hingga dua kali. Telepon seluler dan tas tidak diperbolehkan dibawa masuk ke area pertemuan.

Sebelum pertemuan dimulai, ada satu momen yang justru paling membekas bagi saya. Kami melaksanakan salat Jumat di masjid yang berada di lingkungan Istana.

Khutbah Jumat hari itu membahas tentang keutamaan istighfar. Pesannya sederhana, tetapi terasa sangat dalam: manusia sering kali mencari solusi ke mana-mana, padahal jangan pernah lupa untuk kembali memohon ampun dan pertolongan kepada Allah.

Istighfar bukan sekadar ucapan “Astaghfirullah”. Ia adalah bentuk kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah memiliki jalan keluar atas setiap persoalan.

Saya teringat pesan yang disampaikan khatib tentang bagaimana istighfar menjadi salah satu jalan datangnya pertolongan, kelapangan dan rezeki. Menariknya, setelah salat Jumat itu kami kemudian masuk ke ruang pertemuan untuk membicarakan berbagai persoalan nyata: biaya, kesempatan, pekerjaan, keluarga, pemagangan dan masa depan anak-anak muda Indonesia.

Di situlah saya kemudian berpikir, ikhtiar manusia memang harus dilakukan, tetapi hasil akhirnya tetap bukan sepenuhnya berada di tangan manusia.

Kami datang ke Istana membawa aspirasi.

Membawa data.

Membawa cerita dari lapangan.

Dan tentu membawa harapan.

Selama ini, persoalan pemagangan ke Jepang mungkin lebih sering terdengar dalam bentuk angka, target, program, regulasi dan data.

Berapa orang yang dikirim.

Berapa kebutuhan tenaga kerja.

Berapa kuota.

Berapa peserta yang lulus.

Tetapi ketika pelaku lapangan duduk langsung di hadapan pengambil kebijakan, angka-angka itu tiba-tiba memiliki wajah dan cerita.


Di balik satu orang yang berangkat ke Jepang, ada keluarga yang berharap. Ada orang tua yang ingin kehidupan anaknya lebih baik. Ada anak muda yang ingin mendapatkan pengalaman. Ada persoalan biaya yang harus dipikirkan.Ada proses panjang sebelum keberangkatan.

Dan ada pertanyaan yang lebih besar: setelah mereka pulang dari Jepang, akan menjadi apa?


Hal-hal semacam itulah yang kemudian dibicarakan dalam pertemuan IKAPEKSI dengan Wapres Gibran. Diskusinya berlangsung lebih dari satu jam.

Tidak terasa seperti sekadar pertemuan formal yang selesai setelah foto bersama.

Ada dialog.

Ada pertanyaan.

Ada penjelasan.

Ada pula berbagai persoalan yang disampaikan langsung dari perspektif pelaku.


Yang menarik bagi saya adalah respons Wapres yang cukup antusias mendengarkan dan mengelaborasi persoalan yang disampaikan.

Wapres kemudian meminta jajaran Setwapres yang hadir untuk menindaklanjuti dan mengkoordinasikan persoalan tersebut dengan kementerian dan lembaga terkait.

Di titik itulah saya merasa bahwa audiensi seperti ini memiliki arti.

Bukan karena kami masuk Istana.

Bukan pula semata-mata karena bisa bertemu Wapres.


Tetapi karena cerita dari lapangan akhirnya memiliki kesempatan untuk sampai langsung kepada orang yang memiliki kewenangan untuk mendorong tindak lanjutnya.

Tentu saja, sebuah pertemuan belum menyelesaikan persoalan.

Setelah pintu Istana ditutup, pekerjaan justru baru dimulai.

Aspirasi harus diterjemahkan menjadi program. Koordinasi harus dilakukan. Data harus diperiksa. Dan kementerian/lembaga terkait harus bergerak sesuai kewenangannya.

Tetapi ada satu pelajaran yang saya bawa dari masjid Istana hari itu.

Kita boleh mengetuk banyak pintu, tetapi jangan lupa mengetuk pintu langit.

Kita boleh bertemu pejabat.

Boleh menyampaikan aspirasi.

Boleh memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Tetapi pada akhirnya, ikhtiar manusia dan pertolongan Allah harus berjalan bersama.

Mungkin itulah mengapa khutbah tentang istighfar terasa begitu relevan dengan perjalanan kami hari itu.

Sebelum masuk ke ruang pertemuan, kami diingatkan untuk kembali kepada Allah.

Setelah keluar dari ruang pertemuan, kami kembali membawa tugas untuk berikhtiar.

Karena istighfar bukan alasan untuk berhenti berusaha. Justru ia mengajarkan kita untuk terus berusaha sambil menyadari bahwa Allah-lah yang membuka jalan.

Dan mungkin, sesederhana itulah makna “ketika pelaku lapangan masuk Istana.”

Bukan untuk meminta perlakuan khusus.

Bukan sekadar mencari foto.

Tetapi untuk memastikan bahwa suara dari lapangan tidak berhenti di lapangan.

Dan sambil terus berikhtiar, kita belajar satu hal:

 Kadang solusi datang melalui manusia. Tetapi sumber segala solusi tetap Allah SWT.

Berita Terkait

No Posts Found