Loker : HRGA Staff đź“Ť Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

đź“© Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Kreatif, Tapi Salah Arah: Catatan Kecil dari Keusilan Anak di Masjid

Kreativitas adalah anugerah. Pada anak-anak dan remaja, ia sering muncul dalam bentuk rasa ingin tahu yang tinggi, keberanian mencoba hal baru, dan kemampuan mengeksplorasi teknologi dengan cepat. Namun, kreativitas yang tidak diarahkan dengan tepat bisa berubah menjadi keusilan yang merugikan—bukan karena niat buruk, tetapi karena tidak ada batas yang jelas.

Apr 15 2026, 10:43

Kreatif, Tapi Salah Arah: Catatan Kecil dari Keusilan Anak di Masjid

Oleh: Agus Ratnaningrum

Kreativitas adalah anugerah. Pada anak-anak dan remaja, ia sering muncul dalam bentuk rasa ingin tahu yang tinggi, keberanian mencoba hal baru, dan kemampuan mengeksplorasi teknologi dengan cepat. Namun, kreativitas yang tidak diarahkan dengan tepat bisa berubah menjadi keusilan yang merugikan—bukan karena niat buruk, tetapi karena tidak ada batas yang jelas.

Beberapa waktu lalu, di sebuah masjid di lingkungan kompleks tempat saya tinggal, terjadi hal yang cukup menggelitik sekaligus mengkhawatirkan. Jadwal waktu shalat yang biasanya tampil rapi di layar TV masjid tiba-tiba berubah. Tulisan bergeser, waktu tidak akurat, bahkan sempat muncul tampilan yang tidak semestinya. Awalnya, pengurus masjid mengira ada kerusakan teknis.

Namun setelah ditelusuri, ternyata penyebabnya bukan kerusakan, melainkan ulah beberapa anak yang mencoba “mengutak-atik” sistem TV tersebut melalui ponsel mereka. Dengan memanfaatkan koneksi yang terbuka dan fitur tertentu, mereka berhasil masuk dan mengubah tampilan. Bagi mereka, mungkin ini sekadar iseng atau ajang menunjukkan kemampuan. Tapi dampaknya tentu tidak sederhana.

Peristiwa ini menjadi cermin bahwa anak-anak hari ini memiliki kecakapan teknologi yang luar biasa. Mereka cepat belajar, adaptif, dan berani mencoba. Sayangnya, tidak semua kemampuan itu diiringi dengan pemahaman tentang batasan dan tanggung jawab.

Sebagai pendidik, saya melihat ini bukan semata-mata kesalahan anak. Ada peran besar orang tua dan lingkungan dalam mengarahkan energi dan potensi tersebut. Anak-anak tidak selalu tahu mana yang boleh dan tidak, jika tidak pernah diberi pemahaman yang cukup.

Masjid sebagai tempat ibadah seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan penuh nilai. Ketika ada kejadian seperti ini, yang perlu kita lakukan bukan hanya melarang atau memarahi, tetapi juga mengedukasi. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa tidak semua hal bisa dijadikan bahan eksperimen, apalagi jika menyangkut fasilitas umum dan ibadah.

Di sisi lain, peran orang tua menjadi sangat penting. Pengawasan terhadap penggunaan gawai bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Bukan berarti harus membatasi secara berlebihan, tetapi memastikan bahwa anak menggunakan teknologi dengan tujuan yang jelas dan positif.

Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan. Pertama, kenali aktivitas digital anak—apa yang mereka akses, aplikasi apa yang digunakan, dan dengan siapa mereka berinteraksi. Kedua, bangun komunikasi yang terbuka, sehingga anak tidak merasa diawasi secara kaku, tetapi didampingi. Ketiga, arahkan minat mereka ke hal yang lebih produktif, seperti belajar coding, desain, atau kegiatan kreatif lain yang sesuai dengan usianya.

Selain itu, penting juga untuk menanamkan nilai sejak dini: tentang tanggung jawab, etika, dan empati. Anak perlu memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan bahwa ruang publik harus dijaga bersama.

Kejadian di masjid tadi mungkin terlihat sepele, tetapi menyimpan pesan yang besar. Bahwa potensi tanpa arahan bisa melenceng. Bahwa kecerdasan tanpa karakter bisa menjadi masalah.

Kita tentu tidak ingin mematikan kreativitas anak. Justru sebaliknya, kita ingin menumbuhkannya. Namun, kreativitas itu perlu dibingkai dengan nilai dan diarahkan ke hal yang bermanfaat.

Karena pada akhirnya, tugas kita sebagai orang dewasa bukan hanya mengajarkan apa yang boleh dilakukan, tetapi juga mengapa itu penting. Dan dari situlah, anak-anak belajar bukan hanya menjadi pintar, tetapi juga bijak dalam menggunakan kemampuannya.

Berita Terkait

No Posts Found