Loker : HRGA Staff đź“Ť Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

đź“© Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Menanam Nilai, Menyapa Zaman: Catatan dari Pekan Santri SMP Al Muslim

Selama tiga hari, 26–28 Februari 2026, suasana SMP Al Muslim terasa berbeda. Bukan hanya karena rangkaian kegiatan Pekan Santri yang berjalan sejak pagi hingga siang, tetapi juga karena energi para siswa yang tampak lebih hidup, lebih terlibat, dan—yang paling terasa—lebih reflektif.

Apr 26 2026, 07:55

Menanam Nilai, Menyapa Zaman: Catatan dari Pekan Santri SMP Al Muslim

Oleh: Agus Ratnaningrum, Guru SMP Al Muslim, Bekasi

Selama tiga hari, 26–28 Februari 2026, suasana SMP Al Muslim terasa berbeda. Bukan hanya karena rangkaian kegiatan Pekan Santri yang berjalan sejak pagi hingga siang, tetapi juga karena energi para siswa yang tampak lebih hidup, lebih terlibat, dan—yang paling terasa—lebih reflektif.

Kegiatan ini diisi langsung oleh para guru SMP Al Muslim dengan berbagai materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa: birrul walidain (berbakti kepada orang tua), taharah (bersuci), ukhuwah Gen Z, dahsyatnya gerakan dan makna bacaan shalat, serta penguatan akidah Islam. Disusun tidak sekadar sebagai penyampaian materi, tetapi dikemas secara interaktif—diskusi, simulasi, tanya jawab, hingga studi kasus sederhana yang membuat siswa merasa “ini tentang saya”.

Pada sesi birrul walidain, misalnya, siswa diajak tidak hanya memahami konsep berbakti, tetapi juga merefleksikan hubungan mereka dengan orang tua. Ada momen hening ketika beberapa siswa diminta menuliskan hal sederhana yang jarang mereka lakukan untuk orang tua—dan bagaimana perasaan mereka setelah menyadarinya. Dari situ, percakapan menjadi lebih jujur dan menyentuh.

Materi taharah yang sering dianggap dasar, justru menjadi menarik ketika dikaitkan dengan kebiasaan sehari-hari. Siswa diajak memahami bahwa kebersihan bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari kesadaran diri dan tanggung jawab sebagai seorang muslim. Hal-hal kecil yang sering terlewat, justru dibahas dengan cara yang ringan namun membekas.

Yang tak kalah relevan adalah sesi ukhuwah Gen Z. Di tengah budaya digital yang serba cepat, relasi pertemanan seringkali menjadi dangkal atau bahkan rentan konflik. Dalam sesi ini, siswa diajak memahami makna persaudaraan yang lebih dalam—tentang empati, saling menghargai, dan menjaga lisan, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Diskusi berlangsung hangat, karena topik ini sangat dekat dengan keseharian mereka.

Sementara itu, materi tentang dahsyatnya gerakan dan makna bacaan shalat menjadi salah satu sesi yang paling menarik perhatian. Banyak siswa yang mengaku baru memahami bahwa setiap gerakan dan bacaan dalam shalat memiliki makna yang dalam, bukan sekadar rutinitas yang diulang lima kali sehari. Ketika pemahaman itu muncul, ibadah tidak lagi terasa sebagai kewajiban semata, tetapi menjadi kebutuhan.

Penguatan akidah Islam juga menjadi fondasi penting dalam kegiatan ini. Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai pengaruh dari luar, siswa perlu memiliki pegangan yang kuat. Materi ini tidak disampaikan secara kaku, tetapi dikaitkan dengan realitas yang mereka hadapi—tentang bagaimana tetap teguh dalam keyakinan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan bijak dalam bersikap.

Dari sisi pelaksanaan, kegiatan ini terasa hidup karena adanya interaksi dua arah. Guru tidak hanya menjadi penyampai, tetapi juga pendengar. Siswa diberi ruang untuk bertanya, berpendapat, bahkan mengungkapkan kegelisahan mereka. Di sinilah letak kekuatan kegiatan ini: membangun kedekatan sekaligus kepercayaan.

Lebih dari sekadar rangkaian acara, Pekan Santri memiliki makna yang mendalam. Ini adalah ruang untuk menanam nilai—bukan hanya di level pengetahuan, tetapi juga kesadaran. Di tengah tuntutan akademik yang padat, kegiatan seperti ini menjadi jeda yang penting: mengingatkan kembali tujuan pendidikan yang sesungguhnya, yaitu membentuk manusia yang utuh.

Urgensi kegiatan ini semakin terasa ketika kita melihat realitas remaja hari ini. Mereka tumbuh di tengah dunia yang penuh distraksi, informasi yang tak terbatas, dan perubahan nilai yang begitu cepat. Tanpa penguatan karakter dan spiritualitas, mereka bisa dengan mudah kehilangan arah.

Pekan Santri menjadi salah satu upaya untuk menjawab tantangan tersebut. Ia bukan solusi instan, tetapi langkah nyata. Memberikan bekal yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi akan tumbuh seiring waktu.

Karena itu, kegiatan seperti ini tidak cukup dilakukan sekali. Ia perlu dirutinkan, menjadi bagian dari budaya sekolah. Bukan sekadar program tahunan, tetapi proses berkelanjutan dalam membentuk karakter siswa. Nilai-nilai yang baik perlu diulang, dikuatkan, dan dihidupkan dalam berbagai kesempatan.

Sebagai pendidik, saya melihat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari sikap dan cara berpikir siswa. Ketika mereka mulai memahami makna ibadah, menghargai orang tua, menjaga hubungan dengan sesama, dan memiliki keyakinan yang kuat—di situlah pendidikan menemukan esensinya.

Pekan Santri SMP Al Muslim telah menunjukkan bahwa pembelajaran nilai bisa dikemas dengan menarik dan relevan. Tinggal bagaimana kita menjaga konsistensinya.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi tentang apa yang ditanamkan dan terus dirawat dalam perjalanan waktu.

Berita Terkait

No Posts Found